Ironi Bawang Putih di Negeri Subur

Advertisement

Ironi Bawang Putih di Negeri Subur

Selasa, 18 Februari 2020

Ilustrasi bawang putih.

OLEH: H. ADI BERMASA

SUMBAR sejatinya merupakan daerah penghasil berbagai produk kualitas eksport. Sudah sangat lama hasil bumi daerah ini dikenal di berbagai pasar dunia. Misalnya saja produk tanaman tua seperti karet, kayu manis, cengkeh, pala, minyak sawit, ikan, dan beragam produk lainnya jadi rebutan dunia. 

Dengan banyaknya produk mendunia dari tanah tercinta ini, Sumbar jadi lirikan bangsa asing. Belanda pun berabad-abad menguasai negeri ini. Tak terhitung hasil bumi dari daerah ini dieksploitasi sehingga makmurlah tanah leluhurnya di Eropa sana.

Bangsa yang sudah begitu paham dengan geografis Sumbar yang memiliki tanah subur dan udara yang sejuk memberi citra positif terus-menerus pada banyak negara kaya di dunia. Begitulah kenyataan yang memang tak bisa dibantah.

Selagi banyak tanaman eksport tumbuh dan berkembang di Sumbar, selama itu pula negara maju akan terus membutuhkan semangat dan kerja keras warga kita yang ironisnya kehidupannya tetap saja sederhana dari waktu ke waktu. 

Begitu hebatnya negara yang selalu butuh hasil bumi dari negeri ini, sementara kita masih saja dipusingkan dengan persoalan kebutuhan pokok. Seperti bawang putih. 

Meski terkenal sebagai negara agraris, ternyata kita masih belum mampu mencukupi kebutuhan dapur tersebut. Kita seakan terlena. Bawang putih pun belum sanggup negeri ini menyediakan untuk pasar dunia. Sungguh ironis. Tapi itulah kenyataannya. Tak begitu jelas program unggulan dalam mensejahterakan bangsa yang besar ini. 

Bahkan, negeri agraris yang maha subur ini seakan tak menjadikan bawang putih sebagai tanaman uggulan. Seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Selasa (18/2), sebanyak 23,6 ton bawang putih yang didatangkan dari pusat disebar pemerintah provinsi untuk memenuhi kebutuhan rakyat di daerah ini. 

Reaksi cepat pemerintah mengatasi problema bawang putih ini pantas kita acungkan jempol. Meski kita prihatin dengan musibah virus corona yang menimpa Cina karena ternyata berdampak langsung pada dapur rakyat negeri ini seperti bawang putih yang bergejolak. Sebab, selama ini kebutuhan bawang putih diimpor dari Cina. 

Problema bawang putih yang menimpa negeri ini pantas dijadikan cemeti untuk bekerja lebih keras lagi. Kenapa daerah ini tak begitu memprogramkan penanaman bawang putih besar besaran seperti bawang merah?

Meski ada kebanggaan bahwa pasokan bawang putih untuk rakyat berhasil diatasi dengan mendatangkannya dari luar, namun pantas pula pemegang kebijaksanaan di negeri ini segera memprogramkan Sumbar jadi daerah produsen bawang putih untuk bangsa yang besar ini. 

Dinas Pangan jelas punya kepentingan utama mendongkrak daerah ini agar mampu jadi penghasil utama bawang putih. Apakah sudah diprogramkan? Atau menyerah sambil mengangkat bendera putih? *