Bagi Orang Minang, Layang-layang Bukan Sekadar Permainan di Kala Senggang

Advertisement

Bagi Orang Minang, Layang-layang Bukan Sekadar Permainan di Kala Senggang

Kamis, 20 Februari 2020

Bermain layang-layang. (Pixabay)


Oleh: H. Zulkifli Imam Said

Alhamdulillah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan kita dengan segala kelebihan dan kekurangan. Semua itu mudah-mudahan meningkatkan rasa syukur kita pada Allah SWT. Salawat dan salam buat junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. 

Allah SWT menciptakan segala makhluknya dalam keadaan nyaman. Burung-burung berkicau, ayam berkokok. Semua makhluk Allah ciptakan dengan kesenangan masing-masing. Ada yang kejar-kejaran dalam air, ada yang di atas udara dan di daratan. 

Manusia juga Allah ciptakan dengan beribu-ribu kesenangan. Salah satunya dengan bermain layang-layang. Main layang-layang ini biasanya setelah panen padi. Di saat itulah anak-anak, bahkan orang dewasa bermain layang-layang. Dari bermain layang-layang ini sebenarnya banyak hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik.

Bermain layang-layang haruslah di tanah lapang, tak boleh di tempat sempit. Itulah sebabnya bermain layang-layang setelah panen padi. Bentangan sawah yang luas sebelum ditanam kembali digunakan untuk arena bermain layang-layang. 

Ada nyanyainnya ‘Kuambil buluh sebatang, kupotong, kuraut, kutimbang dengan benang, kujadikan layang-layang’. Kalau tak hati-hati mulai dari mengambil buluh, meraut, menimbangnya, takkan jadi layang-layang yang bagus. 

Pembuat layang-layang paham sekali dengan hukum keseimbangan. Bila tak seimbang, layang-layang tak bakal terbang. Hukum keseimbangan harus ditempatkan oleh siapa saja dan untuk apa saja. Manusia sukses adalah manusia yang paling paham hukum keseimbangan (keadilan). Misalnya mahasiswa tak sama belanjanya dengan anak sekolah dasar karena kebutuhannya berbeda. 

Pemain layang-layang paham sekali dengan cuaca. Di saat angin kencang harus bagaimana dan di saat angin sepoi-sepoi bagaimana pula caranya. Tentunya ini juga ada hikmah tentang kehidupan. Ada masa angin kencang, pemain layang-layang harus punya gumpalan benang yang banyak. Bila layang-layang dapat angin harus dilomba terus, jangan ditahan. Bila benang putus berarti kerugian besar. Tapi bila tak dapat angin harus ditarik secepatnya, kalau tidak layang-layang akan turun terus dan bisa tersangkut di pohon. 

Penulis menilai salah satu pintu sukses anak Minangkabau adalah mereka terbiasa main layang-layang sehingga faham kekuatan angin. Kapan modal harus ditambah hingga keluar pameo ‘pakai padoman ambo indak, angin bakisa ambo tahu’. Sangat paham dengan perubahan situasi yang mau tak mau harus dihadapi dengan kehati-hatian dan ketelitian. Kalau tidak, bisa mendatangkan kerugian dan malapetaka. Orang Minang InsyaAllah paham dengan falsafah main layang-layang. Mudah-mudahan bermain layang-layang tak melalaikan kita. *