PADANG, BRAVOSUMBAR - Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar, Syahruddin membuka kegiatan Integrasi penguatan promosi dan konseling kesehatan dan hak-hak reproduksi bersama mitra kerja pada kegiatan Momentum Peringatan Hari AIDS Sedunia di Axana Hotel, Selasa (3/12/2019).
Dalam sambutannya, Syahruddin mengatakan, dengan terbitnya PP No. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, maka untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan reproduksi bagi setiap orang diperoleh melalui pelayanan kesehatan yang bermutu, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan reproduksi, dilakukan pelayanan kesehatan ibu melalui pelayanan pengaturan kehamilan, penggunaan kontrasepsi, dan kesehatan seksual. Pelayanan dapat dilakukan melalui promosi dan konseling kesehatan reproduksi.
"Kondisi saat ini terkait kesehatan reproduksi sangat mengkhawatirkan seperti masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), tingginya kasus HIV/AIDS, tingginya kasus kanker alat reproduksi, kekerasan seksual tinggi, kehamilan remaja tinggi, ledakan penduduk tidak terkendali yang pada akhirnya menghasilkan generasi dengan daya saing rendah," ujarnya
"BKKBN sebagai lembaga Pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi dalam promosi dan konseling kesehatan reproduksi perlu turut berperan nyata dalam upaya mengentaskan masalah kesehatan reproduksi yang berfokus kearah aspek promotif dan preventif," lanjutnya.
Lebih jauh dia mengatakan, HIV dan AIDS adalah suatu penyakit yang sudah menjadi isu di dunia internasional, dan perlu ditangani secara bersama secara lintas sector bersama dengan masyarakat. Berdasarkan data Kemenkes RI, diperkirakan kasus HIV AIDS sudah menyebar di 463 kabupaten/kota atau sekitar 90,07% dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Indonesia. Berdasarkan data dari Kemenkes RI (Juni 2019), Infeksi HIV di Indonesia sebanyak 349.882 dan terbanyak pada kelompok umur 25-49 tahun (71,1%).
Lanjutnya, penularan HIV AIDS yang utama adalah melalui hubungan seksual berisiko heteroseksual, penggunaan jarum suntik yang tidak aman di antara pengguna obat-obatan terlarang (narkoba), diikuti hubungan homoseksual, penularan dari ibu ke janinnya selama periode kehamilan, melahirkan atau menyusui.
"Secara umum berdasarkan hasil SDKI 2017 sudah ada peningkatan pengetahuan masyarakat terkait HIV/AIDS. Namun kita sebagai pengelola program tetap harus berupaya meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait HIV/AIDS agar lebih komprehensif dan diharapkan masyarakat dapat menghindari perilaku berisiko terhadap penularan HIV/AIDS, " ulasnya.
Salah satu upaya promotif dan preventif yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan keluarga, persiapan kehidupan berkeluarga melalui pendekatan keagamaan menjadi salah satu kunci. Peran BP4 dalam penyiapan kehidupan berkeluarga menjadi sangat strategis, tidak hanya menjadikan mewujudkan kehidupan keluarga yang ideal dan harmonis saja tapi juga keluarga yang sehat.
"Mudah-mudahan kegiatan Integrasi Penguatan Promosi dan Konseling Kesehatan dan Hak-Hak Reproduksi Bersama Mitra Kerja pada Momentum Peringatan Hari AIDS Sedunia ini dapat diikuti dengan baik oleh seluruh peserta sampai akhir kegiatan, dan kepada semua peserta kami mengharapakan setelah kegiatan ini dapat secara aktif mensosialisasikan/ mempromosikan pentingnya menghindari dan mencegah perilaku berisiko HIV/AIDS dan di masing-masing Kab/Kota sampai ke lini lapangan yang terdepan. Sehingga masyarakat Sumatra Barat bisa terhindar dari masalah HIV AIDS, " ungkapnya.
Sementara Dr. dr. Hj Arina Widya Murni Kepala Sub Bagian penyakit dalam FK Unand mengatakan, terjangkitnya HIV /AIDS dikarenakan kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, serta ketidak tahuan tentang bahaya sek bagi kalangan muda.
"Sebagai orang tua kita harus mengawasi anak kita baik dalam bergaul maupun didalam rumah sendiri, sekarang banyak terjadi penyimpangan sek yang dilakukan para remaja, karena ketidak tahuan mereka dan juga kurangnya pengawasan dari orang tua," ujarnya. (naldi)
COMMENTS