PADANG, BRAVOSUMBAR - Program Keluarga Berencana telah berhasil menempatkan diri sebagai salah satu kebutuhan hidup masyarakat, sehingga dalam pelaksanaannya merupakan tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan masyarakat, sehingga program ini perlu terus ditingkatkan dengan mengedepankan aspek pelayanan yang berkualitas dan berkelanjutan serta didukung oleh respon positif dari masyarakat.
Hal tersebut dikatakan Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar, Etna Estelita kepada wartawan beberapa hari lalu.
"Peningkatan kualitas dalam pelayanan Keluarga Berencana dilakukan dengan tujuan membantu akseptor Keluarga Berencana untuk mencapai kesehatan individu secara optimal, sehingga berpotensi menurunkan TFR melalui peningkatan pemakaian alat kontrasepsi," ujarnya.
Dia menambahkan, untuk mengetahui tingkat kepuasan akseptor terhadap pelayanan KB, Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatra Barat melakukan survei dengan menyebarkan Kuesioner kepada akseptor yang mendapatkan pelayanan pada kegiatan bakti sosial tanggal 6 Maret 2020 di BPS Yulinda Laila Kabupaten Padang Pariaman.
Dikatakannya, dengan indikator-indikator pertanyaan yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu keterjangkauan penggunaan kontrasepsi, kewajaran penggunaan kontrasepsi, kesinambungan penggunaan kontrasepsi dan kepuasan pelayanan kontrasepsi.
Dari indikator pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner tersebut pada seluruh akseptor yang berhasil dilayani didapatkan kesimpulan.
"Dari 48 orang akseptor, 20,83 % akseptor memilih metoda kontarsepsi IUD, dan 79,17 % akseptor memilih Implant. Akseptor tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan alat kontrasepsi yang cocok, hal ini mengindikasikan adanya kepuasan akseptor terhadap pelayanan yang dilaksanakan. Baik itu dari petugas KB yang memberikan konseling berkualitas, kerahasiaan dan privasi klien yang terjaga serta tempat pelayanan yang nyaman, "terangnya.
Lebih jauh dia mengatakan seluruh akseptor setuju bahwa keterjangkauan penggunaan alat kontrasepsi membuat kepuasan terhadap pelayanan.
"Hal ini ditandai dengan pelayanan tanpa kenakan biaya. Selain itu kebebasan dalam memilih dan memutuskan jenis metoda kontrasepsi oleh masing-masing calon akseptor, membuat kesinambungan penggunaan metoda yang dipilih. Hal ini memberi gambaran bahwa pelayanan yang telah diberikan sudah sesuai dengan harapan dan kebutuhan dari akseptor tersebut, " pungkasnya. (*naldi)
Komentar