ALHAMDULILLAH, puji syukur senantiasa keluar dari lidah kita, mudah-mudahan dengan rasa syukur itu Allah SWT tambah nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga jumlahnya.
Salawat dan salam semoga tercurah buat junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Nikmat dunia hanya satu tetes dari jutaan tetes rahmat dan karunia Allah SWT di alam sana nanti. Karena itu, semua kegiatan yang dilakukan manusia di dunia ini harus untuk kesempurnaan hidup di alam sana nanti.
Kesempurnaan itu ibarat utuh, kekar, kuat, tak terpecah, tak retak, dan tak lapuk. Istilah lain, tanpa cacat, paripurna manusia seutuhnya.
Untuk sampai ke sana tentu sama apa yang digetarkan hati dan yang diucapkan lidah. Bila beda apa yang diucapkan lidah dengan apa yang digetarkan hati, tak mungkin jadi manusia seutuhnya.
Ada orang mengatakan pribadi ganda, munafik, dan lain sebagainya. Orang yang lain perbuatan dan perkataannya sangat sulit didekati dan dipergauli. Orang akan tercengang dan ngeri melihat pribadi ganda. Sebentar mengucapkan ini, di saat lain apa yang dilakukan ternyata tak sama dengan yang diucapkan. Orang pribadi ganda ini neraka tempat kembalinya.
Pribadi ganda ini biasanya penipu, koruptor. Penampilan seolah-olah pembela tapi perbuatan merusak dan merugikan orang lain. Di dalam bahasa Alquran disebut munafik. Orang munafik sangat jahat perbuatannya dan sangat buruk tempat kembalinya. Mereka tak bisa membaikkan dirinya, apa lagi membaikkan orang lain.
Bila kita punya pasangan, teman, atasan, bawahan yang punya kepribadian ganda ini, tak mungkin kerjasama dengan mereka. Pribahasa kita di negeri ini mengatakan ‘didahulukan menyepak, dibelakangkan menanduk’. Tak ada yang baik, serba salah, kerja sedikit, celoteh banyak. Kalau mereka bekerja, sama dengan ayam bertelur, telur satu sorak seribu. Belum tentuk kerja, kamera berkilat-kilat. Wartawan didekati terus ‘tinggi ruok pado galeh’.
Di Rao Pasaman dulu ada istilah ‘gerobak kuat, tarik ndak bara’. Ganto yang tergantung di leher kuda bukan main suaranya, sementara kuda itu tak mampu menarik beban berat. Banyak manusia menyembunyikan kelemahannya dengan menggerakkan ganto yang tak berarti apa-apa. *


Tidak ada komentar:
Posting Komentar