| BUPATI Pessel Hendrajoni saat meluncurkan Kopi Mancakau. |
PAINAN, BRAVOSUMBAR.COM
Bubuk Kopi Mancakau yang sudah menjadi produk unggulan di Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) saat ini semakin diminati oleh masyarakat. Peminat bubuk Kopi Mancakau bukan saja dari masyarakat lokal, tapi juga dari luar daerah. Sehingga, usaha itu diyakini akan menjadi andalan ekonomi masyarakat di masa datang, terutama bagi anak Nagari Koto Rawang sendiri.
Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Pessel Azral, Kamis (6/2/2020), membenarkan usaha produksi bubuk Kopi Mancakau saat ini semakin berkembang di Nagari Koto Rawang.
"Agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi, kita akan bantu pengembangan jaringan. Sebab, bubuk Kopi Mancakau yang dikembangkan anak Nagari Koto Rawang itu memiliki cita rasa tersendiri dan juga nikmat sebagai minuman penghangat badan," katanya.
Pihaknya tidak memiliki keragu-raguan lagi dalam mempromosikan dan mengembangkan usaha bubuk Kopi Mancakau itu. Bahkan, Kopi Mancakau telah diluncurkan secara resmi oleh Bupati Pessel Hendrajoni pada 30 Desember 2019 lalu.
“Sekarang peminatnya tidak saja dari masyarakat lokal, tapi sudah sampai ke luar daerah," ungkapnya.
Dia berharap kepada masyarakat agar terus mengembangkan usaha bubuk kopi asli Nagari Koto Rawang tersebut.
"Nagari Koto Rawang di Pessel memang terkenal dengan perkebunan kopinya. Selama ini hasil panen kopi hanya dijual dalam bentuk biji kepada pedagang. Melalui pengolahan dalam bentuk bubuk yang diberi nama Kopi Mancakau ini, diharapkan perekonomian petani semakin membaik," ungkapnya.
Dikataan demikian, sebab untuk satu kemasan isi 250 gram harga pasarannya Rp20 ribu.
"Beda jika dijual masih dalam bentuk biji karena hanya dihargai pedagang pada kisaran Rp15 ribu per kilogram (kg). Kemasan yang ditawarkan juga beragam, mulai dari 200 gram, 250 gram, 500 gram, hingga satu kilogram. Konsumen tinggal memilih mana yang disukai," jelasnya.
Sementara, Walinagari Koto Rawang Darijol mengatakan nagarinya adalah salah satu penghasil kopi di Pessel. "Kopi merupakan salah satu komoditi unggulan masyarakat petani di nagari ini. Dalam satu bulan mampu memproduksi kopi mencapai 45 ton," ungkapnya.
Dia menjelaskan sebelum bubuk Kopi Mancakau itu dikembangkan oleh masyarakat melalui usaha rumah tangga, semua hasil panen masyarakat hanya dijual dalam bentuk biji.
“Sekarang tidak lagi, sebab melalui pengelolaan usaha bubuk Kopi Mancakau ini semua hasil panen bisa tertampung karena tingginya permintaan masyarakat dari luar daerah. Karena permintaan tinggi, harga jual ikut naik. Ini tentu sangat menguntungkan secara ekonomi. Sebab sekitar 85 persen masyarakat saya adalah peladang kopi," ulasnya. (ist/*)