PADANG, BRAVOSUMBAR.COM - Memasuki tahun ketiga pelaksanaannya, program ‘lokal takhassus’ semakin dikenal secara luas. Hingga saat ini, program istimewa yang diluncurkan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang sejak tahun 2017 silam itu merupakan yang pertama dan satu-satunya di Sumbar.
Kepala MAN 3 Padang, Afrizal menjelaskan bahwa ‘output’ yang ingin dihasilkan melalui lokal takhassus adalah siswa unggul dengan prestasi akademik yang tak perlu diragukan, memiliki kemampuan fisik dan mental mumpuni, serta mempunyai keimanan yang kokoh. Hebatnya, siswa takhassus otomatis merupakan seorang hafiz Alquran karena mereka diwajibkan hafal 1 juz Alquran setiap semester. Sehingga, begitu tamat dari MAN 3 Padang, mereka setidaknya hafal 6 juz Alquran.
“Dengan demikian, mereka sudah memenuhi syarat untuk bisa diterima di sejumlah perguruan tinggi favorit melalui jalur hafiz,” papar Afrizal kepada bravosumbar.com, Sabtu (3/8/2019).
Diterangkannya, untuk masuk ke lokal takhassus, calon siswa baru harus mengikuti tes tersendiri, terpisah dengan tes PPDB. “Jadi, bukan berarti siapa yang berminat bisa langsung masuk lokal takhassus. Harus lulus tes tersendiri. Namun, semua siswa baru memiliki kesempatan yang sama. Dan hasil tes itulah yang akan menentukan siapa saja yang bisa diterima di lokal takhassus,” ujar Afrizal.
Setelah siswa dinyatakan lulus dalam lokal takhassus, maka mereka akan digembleng dalam program pembinaan siswa (Basis). Selama tiga tahun berjalan, program ‘Basis’ menghadirkan pelatih dan instruktur dari Lantamal II Padang.
Hal itu untuk membentuk sikap mental dan fisik mereka. Sebab, para siswa takhassus sejak awal memang disiapkan untuk dapat diterima di sekolah kedinasan yang membutuhkan mental dan fisik di atas rata-rata, seperti Akmil, Akpol, IPDN, STAN, STSN, dan sekolah kedinasan lainnya. Selain itu, mereka juga disiapkan untuk lulus di perguruan tinggi negeri (PTN) favorit.
“Selama menjalani Basis, mereka dilatih untuk memiliki semangat kekeluargaan dan jiwa korsa yang tinggi. Salah satu materi dalam ‘Basis’ yang harus mereka jalani adalah jurit malam dan jurit tangkas,” jelas Afrizal sembari menambahkan jam belajar siswa takhassus masuk pukul 06.45 WIB dan pulang pukul 17.45 WIB.
Kedisiplinan menjadi salah satu tolok ukur penting dalam program takhassus. Kedisiplinan itu termasuk untuk jam belajar, target hafalan, dan terhadap peraturan yang berlaku. Bagi siswa yang tidak disiplin, maka dengan sangat terpaksa harus dikeluarkan dari lokal takhassus dan masuk ke kelas reguler.
“Kedisiplinan ini tidak bisa ditawar-tawar. Sebab, satu saja siswa yang tidak disiplin bisa mempengaruhi teman-temannya yang lain. Tentu kita tidak ingin program ini gagal karena satu siswa yang tidak disiplin,” sebut Afrizal didampingi Waka Humas, Ihsan Lubis dan Waka Kurikulum, Syafrizal Tanjung, yang ditunjuk sebagai penanggungjawab program takhassus tersebut.
Kedisiplinan itu dibuktikan dengan adanya siswa yang terpaksa dikeluarkan dari lokal takhassus setiap tahun. Pada tahun ini ada empat siswa takhassus yang ‘pindah bangku’ ke kelas reguler. Namun, hal itu bukan berarti sebagai bentuk hukuman kepada siswa yang bersangkutan karena pada dasarnya peraturan di program takhassus memang berbeda dibandingkan aturan umum di kelas reguler.
“Jadi, siswa yang dikeluarkan dari lokal takhassus artinya mereka memang tidak mampu mengikuti program ini,” ucap Afrizal.
Dirincikannya, takhassus angkatan I (kelas XII) dari 30 siswa saat ini tinggal 16 siswa, angkatan II (kelas XI) dari 30 siswa menjadi 25 siswa, dan angkatan III saat ini berjumlah 29 siswa.
Menurutnya, semua siswa takhassus mendapat beasiswa dari pihak madrasah sampai tamat. Kecuali jika di tengah jalan siswa itu keluar dari lokal takhassus.
“Tentunya siswa thakassus harus belajar dengan tekun karena yang tidak ada peningkatan dalam belajar akan dikeluarkan dan masuk lokal reguler. Maka itu, siswa takhassus harus giat belajar dan memenuhi target yang diberikan,” ulasnya.
Afrizal mengaku siap berbagi jika ada madrasah atau sekolah lain yang ingin melakukan ‘studi belajar’ tentang program takhassus itu.
“Kenapa tidak, karena pada intinya program ini adalah untuk melahirkan generasi masa depan yang unggul sebagai calon pemimpin bangsa,” pungkasnya. (rev)
Komentar