Pena Pora Takhassus MAN 3 Padang Berlangsung Penuh Haru

Iklan Semua Halaman

Pena Pora Takhassus MAN 3 Padang Berlangsung Penuh Haru

Selasa, 30 Juli 2019

Tradisi 'Pena Pora' pelepasan siswa takhassus ke kelas reguler di lapangan MAN 3 Padang, Senin (29/7/2019).
PADANG, BRAVOSUMBAR.COM - Upacara bendera pada Senin pagi (29/7/2019), di MAN 3 Padang diwarnai ‘kejutan’. Secara tidak terduga, usai upacara dilangsungkan tradisi ‘pena pora’. 

Tradisi langka itu menandakan adanya siswa ‘takhassus’ yang mesti meninggalkan kelas istimewa itu dan masuk ke kelas reguler. 

Kepala MAN 3 Padang, Afrizal, dalam amanatnya menyampaikan bahwa siswa takhassus yang ‘pindah bangku’ ke kelas reguler itu dikarenakan mereka tidak memenuhi target dan aturan yang ada di program takhassus.

“Jujur, saya sebagai kepala madrasah tidak tega, namun ini harus dilaksanakan demi kelangsungan program takhassus yang kita rintis sejak tahun 2017 silam,” ujar Afrizal dalam nada lirih. 

Suasana yang hening pada pagi itu turut membuat rasa haru semakin menyeruak. Apalagi, ratusan siswa kelas X hingga kelas XII turut menyaksikan prosesi sakral tersebut. Semuanya menunjukkan raut wajah simpati. 

Terlebih siswa takhassus. Kebersamaan di lokal takhassus dengan semangat korsa tinggi selama ini seketika luruh melihat beberapa rekan mereka harus meninggalkan lokal istimewa itu dan masuk ke kelas reguler. Bahkan, ada yang sampai menitikkan air mata. 

“Dengan ini, maka segala atribut, fasilitas, dan aturan takhassus lepas dari dirimu. Tapi ingat, ananda tidak lepas sebagai siswa MAN 3 Kota Padang. Ini memang berat tapi harus dilaksanakan,” ujar Afrizal. 

Dia mengingatkan bahwa sejak awal, termasuk saat menjalani masa ‘basis’, kepada para siswa takhassus sudah ditekankan tentang aturan, target, dan kewajiban yang harus dipenuhi. 

Nama-nama siswa yang harus meninggalkan kelas takhassus pun disebutkan satu persatu, sebanyak empat orang. Dua perempuan dan dua laki-laki. Dengan tegar dan tetap menyayunkan langkah tegap, mereka menjalani tradisi ‘pena pora’.

“Ini bukanlah akhir dari segalanya, bukan pula untuk disesali. Tapi jadikanlah ini sebagai bekal bagi ananda untuk bisa bersaing di kelas reguler. Jangan goyah semangat belajarmu, jadilah terdepan di kelas barumu,” ucap Afrizal memotivasi keempat siswa tersebut.

Usai menjalani ‘pena pora’ keempat siswa itu dirangkul oleh teman-temannya. Mereka dikuatkan dan dihibur. Air mata tumpah, tangis pun pecah. Namun, seperti ditegaskan Afrizal, hal itu ‘terpaksa’ dilakukan untuk menjaga marwah kelas takhassus.

Sekedar informasi, tradisi 'pena pora' itu dilaksanakan setiap tahun, dengan catatan jika ada siswa takhassus yang tidak mencapai target atau melanggar aturan. Namun, hal itu bukanlah sebagai bentuk hukuman karena pada dasarnya peraturan dalam program takhassus memang berbeda dari kelas reguler. 

Menurut Waka Humas MAN 3 Padang, Ihsan Lubis, didampingi Waka Kurikulum Syafrizal Tanjung, selama ini siswa takhassus yang pindah ke kelas reguler, mereka selalu berhasil menjadi juara kelas. (rev)