Menyibak Tirai ‘Romantisme’ Padang-Palestina

SEBUAH foto yang diunggah netizen menampilkan kondisi terkini di Palestina. Terlihat sebuah mobil ambulan sumbangan warga Kota Padang membantu mengevakuasi korban di Palestina akibat serangan Israel. Dalam foto itu, lambang ‘Tuah Sakato’ milik Kota Padang yang terpasang di dinding depan dan samping mobil ambulan itu terlihat jelas.

PADANG, BRAVOSUMBAR.COM

Sudah dua pekan lebih agresi Israel dan saling serang dengan Hamas berlangsung sejak pecah pertama kali jelang Idul Fitri lalu, tepatnya pada 10 Mei 2021. Ratusan warga Palestina jadi korban jiwa dan ribuan lainnya luka-luka. Sementara di pihak Israel terdapat korban jiwa puluhan orang.

Konflik terbaru antara Palestina dan Israel ini menyedot perhatian dunia, tak terkecuali warga Sumbar. Bahkan, beberapa waktu lalu sempat viral sebuah mobil ambulan berlogo Pemko Padang yang sedang mengevakuasi korban warga Palestina. Ternyata, antara Kota Padang dan Palestina punya kisah ‘romantisme’ yang mungkin tidak semua orang tahu namun menarik untuk disimak. 

Kisah ini bermula pada saat Gaza diserang hebat oleh Israel pada 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Dalam serangan itu Israel disebut-sebut menggunakan bom fosfor yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran HAM berat. Setelah memborbardir Gaza melalui serangan udara, Israel melanjutkan dengan pertempuran darat. Ratusan tank Merkava menyerbu Gaza.

Sekadar informasi, Gaza itu semacam provinsi, terdiri dari tujuh kota. Di selatan ada Kota Rafah berbatasan dengan Gurun Sinai (Mesir), di utara ada Kota Beit Lahiya, berbatasan dengan wilayah yang dikuasai Israel.

Serangan darat Israel diawali dari wilayah utara Gaza pada 3 Januari 2009, melalui sebuah kota bernama Beit Lahiya. Kawasan itu membara, jadi ajang perang ‘basosoh’ di darat. Dalam perang bernama ‘Pertempuran Al Furqan’ itu tercatat sekitar 400 lebih pejuang Palestina yang syahid di Beit Lahiya saja. Jangan tanya kehancuran Beit Lahiya. Mereka mengalami gempuran darat, laut, dan udara. Tank dan pesawat pembom Israel hanya bisa dihadapi oleh pejuang Palestina dengan senjata seadanya.

$ads={1}

Pertempuran di Beit Lahiya jadi paling sengit dan paling banyak menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrasturktur. Sebab, pasukan darat Israel menjadikan kota itu sebagai pintu gerbang untuk menyerbu Gaza. 

Tapi, perang tak berlangsung terlalu lama. Kurang lebih hanya sekitar 20 hari. Israel mengajak damai dengan mengumumkan gencatan senjata secara sepihak. Hal ini dikarenakan Hamas mengintensifkan serangan roket dan mortirnya terhadap sebagian besar sasaran di Israel selatan hingga mencapai kota-kota besar Beersheba dan Ashdod untuk pertama kalinya selama konflik. Politisi Israel akhirnya memutuskan untuk tidak menyerang lebih dalam di Gaza di tengah kekhawatiran korban yang lebih banyak di kedua sisi dan meningkatnya kritik internasional. Israel menarik mundur semua pasukannya dari Gaza dan perang dinyatakan berakhir pada 18 Januari 2009.

Perang Gaza ini adalah permulaan dari kisah ‘romantisme’ Padang dan Palestina. Sebagaimana diketahui, ada kejadian luar biasa pada tahun 2009. Ya, pada Rabu sore, 30 September 2009 terjadi gempa berskala 7,9 skala richter yang mengguncang Sumbar. Kerusakan terparah akibat gempa itu menimpa Kota Padang. Korban jiwa mencapai 1000 orang lebih dan ratusan gedung runtuh total.

Padang sempat lumpuh dalam beberapa waktu. Berita gempa dahsyat ini menyebar ke seluruh dunia. Adalah DR. Izzuddin Ad-Dahnun, pemimpin luar negeri pertama yang datang langsung untuk menyampaikan bantuan bagi korban Gempa 2009. Ia adalah Walikota Beit Lahiya, Gaza. Kota yang belum genap sembilan bulan sebelumnya luluh lantak akibat agresi Israel.

Izzuddin Ad-Dahnun menemui Walikota Padang saat itu, Fauzi Bahar untuk menyampaikan bantuan langsung dari pemerintah dan warga Kota Beit Lahiya. Tidak ada informasi jumlah bantuannya, tapi kehadiran Izzuddin mewakili rakyat Gaza umumnya dan Beit Lahiya khususnya, sungguh luar biasa. Saat itu juga langsung dibuat perjanjian kerjasama kota kembar (sister city) antara Padang dan Beit Lahiya. 

Seorang bayi dievakuasi pada gempa 2009 di Padang. Foto-foto suasana gempa Padang 2009 dapat dilihat di sini.

Bisa dibayangkan, yang membantu Padang pertama kali adalah mereka yang kotanya masih luluh lantak dan semerbak darah bercampur mesiu. Perjalanan Izzuddin Ad-Dahnun ke Padang juga bukan perjalanan mudah. Ia harus melewati belasan cek poin militer yang terbentang sepanjang Gurun Sinai, Mesir. Belum lagi mengurus visa keluar dan masuk Gaza yang bikin frustasi.

Sekitar tahun 2011, Fauzi Bahar sempat berkelakar (mungkin juga serius) saat bertemu seorang Syekh Palestina di Padang. Ketika itu Fauzi Bahar bilang, "nanti saya akan latih pejuang Palestina berperang di laut". Maklum, Fauzi Bahar yang berkampung halaman di Koto Panjang Ikur Koto, Kecamatan Koto Tangah itu adalah seorang purnawirawan TNI Angkatan Laut (AL).

Kisah pun berlanjut pada tahun 2012, Wakil Ketua DPRD Kota Padang, Budiman dan Ketua DSW PKS Sumbar Irsyad Safar berkunjung ke Gaza didampingi aktivis kemanusiaan Afwan Riyadi, sekaligus menemui Izzuddin Ad-Dahnun di Beit Lahiya. Budiman saat itu mewakili Walikota Padang menandatangani perpanjangan kerjasama ‘sister city’ Padang-Beit Lahiya.

PERTEMUAN Irsyad Safar (kanan) dan Budiman (tengah) dengan Walikota Beit Lahiya Izzuddin Ad-Dahnun (kiri) di Gaza tahun 2012 silam. (Foto: Dok. Afwan Riyadi

Sepekan mereka berada di Gaza, suasana mulai memanas. Saat itu mulai muncul pemboman dari Israel, bahkan ada yang jatuh hanya satu kilometer dari hotel tempat rombongan dari Padang menginap. Saat rombongan sudah kembali ke Kairo, Mesir, perang akhirnya bernar-benar pecah. Di akhir perang itu, saat Irsyad Safar, Budiman, Afwan Riyadi dan rombongan sudah tiba di Tanah Air, mereka mendapat kabar bahwa Izzuddin Ad-Dahnun syahid saat mengangkat senjata mempertahankan tanah airnya. Sungguh kesedihan bagi rombongan saat itu.

Diketahui, bantuan warga Palestina untuk korban bencana alam di Indonesia bukan hanya di Padang saja. Saat Gunung Merapi meletus, warga Palestina juga menggalang donasi. Salah satunya diwujudkan jadi TK Al Aqsha di kaki Gunung Merapi. Begitu juga saat gempa Palu Sulawesi Tengah, warga Palestina mengirim bantuan sebanyak 20 truk.

Afwan Riyadi yang menjadi saksi langsung jalinan kerjasama Padang dan Palestina ini mengingatkan kepada orang-orang yang berkata ‘ngapain jauh-jauh bantu Palestina karena di sini juga banyak yang harus dibantu’ bahwa warga Palestina sudah menunjukkan kepedulian dengan warga Indonesia meski wilayahnya sendiri hancur lebur digempur Israel. 

(Dikutip dan disadur dari utas Afwan Riyadi pada akun Twitter @af1_)

Lebih baru Lebih lama