Sumbar Terapkan SOP Antisipasi Flu Babi

PADANG ONLINE, Padang - Pengelola Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Sumatera Barat meningkatkan pengawas kunjungan tamu dari pintu internasional, pasca meninggalnya Sultan Farhan (9), yang dicurigai suspect flu babi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr M Djamil Padang. Bentuk pengawasan tersebut akan dirumuskan dalam bentuk Standard Operation Procedure (SOP).

General Manager PT Angkasa Pura II (persero) Padang, Agus Kemal Pramayudha usai rapat koordinasi mengantisipasi penyebaran virus H1N1 dari BIM ke Sumatera Barat, Selasa (14/7) kemarin mengatakan, SOP tersebut diantaranya menitikberatkan pengawasan di pintu kedatangan internasional di BIM. Pasalnya dari pintu tersebut, diperkirakan sebanyak 900 penumpang dari 3 maskapai penerbangan internasional datang per harinya melewati BIM. Tiga maskapai penerbangan internasional tersebut yaitu Air Asia dan Firefly dari Malaysia, serta Tiger Airlines dari Singapura.

"Kita tahu, Kualalumpur, Subang dan Singapura menjadi pintu masuk penyebaran virus H1N1, dari kota ini juga ada jalur ke Thailand yang juga telah tercemar dari virus tersebut, sedangkan 3 airlines tersebut langsung dari kota-kota tersebut ke BIM," ujarnya.

Lebih jauh Agus mengatakan PT Angkasa Pura sebagai pengelola BIM juga mengambil langkah-langkah antisipasi dengan cara membekali semua petugas dalam pelayanan dengan pengetahuan deteksi visual tentang virus H1N1.

Selain itu, katanya, pengelola bekerjasama dengan dinas kesehatan dan instansi terkait juga telah memasang alat infrared thermometer, alat untuk pengukur suhu tubuh, menjelang peralatan lebih canggih, thermal scanner dipasang di BIM. Cara kerja infrared thermometer memang lebih lama karena peralatan ini bekerja manual. Saat ini, BIM memiliki 4 alat infrared thermometer. Petugas harus memasang alat tersebut ke dahi penumpang saat keluar dari pintu kedatangan di bandara.

Kasi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi Depkes Pelabuhan Padang, Risdal yang ditemui Haluan di BIM kemarin menambahkan, sejak isu flu babi merambah dunia, pihak BIM telah melakukan antisipasi pencegahan virus ini masuk ke Sumbar.
“Petugas di BIM memakai masker semenjak beberapa minggu lalu. Untuk sementara, alat infrared thermometer hanya dipakai untuk orang asing, dan belum digunakan bagi penumpang domestik. Selama alat ini digunakan, belum ada yang terdeteksi virus flu babi. Mudah-mudahan tidak ada,” ujarnya.

Kejadian Luar Biasa
Indonesia sendiri sejak 11 Juli 2008 lalu sudah mengumumkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus flu babi, menyusul Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mengumumkan flu babi sudah masuk level enam atau level tertinggi. Hal itu dilakukan karena WHO yakin flu babi akan menyebar dengan cepat ke seantero penjuru dunia. Depkes secara otomatis juga menerapkan status tersebut di Indonesia. Berdasarkan standar WHO, level 6 artinya virus telah mewabah ke negara lain antar benua dan ditularkan antar manusia.

Sampai 14 Juli 2009 kemarin, secara kumulatif kasus influenza A-H1N1 (flu babi) positif di Indonesia berjumlah 112 orang terdiri dari 63 laki-laki dan 49 perempuan, yaitu 24 Juni 2 kasus, 29 Juni 6 kasus, 4 Juli 12 kasus, 7 Juli 8 kasus, 9 Juli 24 kasus, 12 Juli 12 kasus, 13 juni 22 kasus dan 14 Juni kemarin bertambah 26 kasus.
Lebih baru Lebih lama