Tol Jagorawi Disiapkan Sebagai Benteng Terakhir Jika Perang, Bukti Pemikiran Pak Harto Jauh ke Depan

Iklan Semua Halaman

Tol Jagorawi Disiapkan Sebagai Benteng Terakhir Jika Perang, Bukti Pemikiran Pak Harto Jauh ke Depan

Rabu, 11 Maret 2020
Jalan Tol Jagorawi Disiapkan untuk Landasan Pesawat Tempur
Jalan Tol Jagorawi tempo dulu. Jalannya lebar dan didesain untuk bisa menjadi landasan pesawat tempur.

SUATU hari di Bulan Agustus 2013, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Balaikota, Jakarta. Keduanya membahas penyelarasan pembangunan di DKI Jakarta dan strategi pertahanan nasional. 

Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Jakarta, Jokowi menyampaikan keinginannya kepada Wamenhan untuk merombak Jalan Tol Jagorawi supaya bisa dijadikan tempat mendarat darurat bagi pesawat tempur ketika keamanan terancam. Seperti jika terjadi perang.

Sejatinya, Tol Jagorawi memang bisa untuk landasan pesawat tempur. Tapi itu dulu. Seiring waktu, jembatan penyeberangan dibangun di tol tersebut. Praktis, pesawat tempur tidak bisa lagi mendarat.

Jadi, usulan Jokowi ketika itu bukanlah ide baru. Sebab, Tol Jagorawi itu saat semula dibangun memang disiapkan oleh Pak Harto sebagai benteng pertahanan terakhir jika Lanud Halim Perdanakusuma hancur diserang musuh jika terjadi perang. Sehingga, struktur tol itu benar-benar dibuat kokoh. Mampu menahan beban pesawat tempur yang beratnya ratusan ton.

Jika merunut sejarah, konsep tol sebagai landasan pesawat tempur ini berawal pada perang dunia kedua. Saat itu landasan pacu lapangan terbang Jerman dijatuhi bom oleh Sekutu. Tentu saja Jerman jengkel, lalu bersiasat menggunakan jalan raya yang dibangun lebar sesuai landasan pacu darurat pesawat tempurnya. 

Jalan itu harus mempunyai mutu yang sama dengan landasan pacu, yang mampu menahan beban roda pesawat. Dengan begitu diharapkan pihak lawan akan berpikir beberapa kali bila ingin menghancurkan landasan pacu darurat yang panjangnya berkilo-kilometer. 

Dan konsep itulah yang diterapkan Pak Harto saat membangun jalan sepanjang 59 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Bogor, dan Ciawi (Jagorawi) itu. Jalan tol itu diresmikan Pak Harto 42 tahun silam, tepatnya pada 9 Maret 1978.

Pak Harto perintis Jalan Tol Pertama di Indonesia
Presiden Soeharto

Presiden yang dijuluki the smiling general itu memang amat bangga saat proyek pembangunan Tol Jagorawi yang dimulai sejak tahun 1973 itu akhirnya rampung. Dikutip dari buku ‘Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978’ suntingan G. Dwipayana dan Nazarudin Sjamsuddin (2003), Presiden RI ke-2 ini menganggap Tol Jagorawi istimewa karena merupakan jalan bebas hambatan yang pertama di Indonesia.

Dikutip dari laman tirto.id, Soeharto menjamin mutu Tol Jagorawi tidak kalah dengan fasilitas jalan serupa di negara-negara maju. Jalan ini, lanjutnya, dibangun lantaran semakin majunya kehidupan ekonomi dan bertambah cepatnya pembangunan. Selain itu, katanya, juga demi tujuan pemerataan pembangunan sehingga tidak hanya terpusat di Jakarta saja.

“Dengan demikian, Jakarta yang telah tumbuh demikian pesat itu kita manfaatkan, sehingga dapat menggerakkan pembangunan daerah-daerah sekitarnya,” imbuh Pak Harto.

Jalan Tol Jagorawi ini disiapkan Pak harto untuk dua fungsi, yakni untuk sipil dan militer. Selain dimanfaatkan sebagai jalan raya pada umumnya, jalan ini juga digunakan sebagai landing-strip darurat bagi pesawat-pesawat tempur jika sewaktu-waktu terjadi perang. *