Belasan Terduga Pelaku Maksiat dan Pasangan LGBT Terjaring Razia di Padang -->

Iklan Semua Halaman

Belasan Terduga Pelaku Maksiat dan Pasangan LGBT Terjaring Razia di Padang

Rabu, 21 November 2018
Kasatpol PP Padang, Yadrison, memeriksa mereka yang terjaring razia pemberantasan penyakit masyarakat, di antaranya pasangan ilegal yang kedapatan sekamar di penginapan hingga pasangan penyuka sesama jenis alias LG- BT, saat diamankan di Mako Pol PP Padang, di Jalan Tan Malaka, Kota Padang, Selasa dinihari (20/11/2018).
Kasatpol PP Padang, Yadrison, memeriksa mereka yang terjaring razia pemberantasan penyakit masyarakat, di antaranya pasangan ilegal yang kedapatan sekamar di penginapan hingga pasangan penyuka sesama jenis alias LG- BT, saat diamankan di Mako Pol PP Padang, di Jalan Tan Malaka, Kota Padang, Selasa dinihari (20/11/2018).


Pengakuan Lesbian: Trauma dengan Lelaki, Tiga Kali Kawin Cerai Suami Selalu KDRT, Dua Kali Keguguran


PADANG, BRAVOSUMBAR - Jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang terus menggencarkan pemberantasan penyakit masyarakat (pekat), termasuk LGBT. Pada Selasa dinihari (20/11/2018) sekitar pukul 01.00 WIB, petugas Satpol PP mendapat laporan dari masyarakat bahwa ada pasangan lelaki suka lelaki (LSL) alias gay di Lapangan RTH Iman Bonjol Padang. Tidak menunggu lama, petugas langsung merespon laporan itu. Sesampainya di lokasi, petugas mengamankan kedua lelaki yang diduga gay, yaitu NP (35 tahun) dan AN (48 tahun), ke Mako Satpol PP di Jalan Tan Malaka.

Kasat Pol PP Padang, Yadrison, mengatakan masyarakat sudah sangat resah dengan perilaku LGTB yang menyimpang dari ajaran agama dan adat. "Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, keduanya kita amankan terlebih dahulu. Dari laporan masyarakat setempat yang kami dapati, kedua lelaki tersebut sudah memperlihatkan perilaku yang aneh di tengah-tengah masyarakat. Salah satu perilakunya yang terlihat mereka berdua duduk di tempat yang gelap dan saling adu pipi," ucap Yadrison.

Tak berhenti sebatas mengamankan pasangan diduga gay itu, petugas Satpol PP kemudian melakukan razia ke beberapa penginapan yang kerap menerima pasangan ilegal yang menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Alhasil, petugas mengamankan satu pasangan yang bukan suami istri, yakni perempuan berinisial RJ (20 tahun) dengan seorang laki-laki Df (22 tahun) yang tidur dalam satu kamar di Penginapan Eden, Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara.

Selanjutnya, petugas menggerebek mobil bergoyang di dekat SPBU Khatib Sulaiman. Di sana petugas mengamankan pasangan ilegal perempuan berinisial IE (26 tahun) dengan seorang laki-laki MD (26 tahun). Kedua pasangan tersebut digiring petugas ke Mako Satpol PP dengan mobil dalmasnya.

Tak berapa lama kemudian, petugas kembali mendapatkan laporan dari masyarakat Purus, Kecamatan Padang Barat, tentang adanya dua orang perempuan berinisial VA (25 tahun) dan ZA (27  tahun) yang diduga LBGT berada dalam satu kamar kontrakan. Menyikapi keresahan warga tersebut, petugas langsung ke lokasi dan mengamankan kedua perempuan itu.

"Mereka yang diamankan kita data dan kita periksa terlebih dahulu. Jika ada yang berperilaku menyimpang akan segera kita kirim ke Dinas Sosial untuk dibina," imbuh Yadrison.

Dia menambahan, untuk pasangan ilegal tersebut orangtuanya akan dipanggil ke Mako Satpol PP Padang sebagai penjamin.

"Kami mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Kota Padang yang sudah memberikan laporan tentrang remaja yang berperilaku menyimpang dan berharap kepada seluruh lapisan masyarakat untuk selalu bekerja sama dalam memberantas Maksiat dan penyakit masyarakat lainnya," ucap Yadrison.

SEBELUMNYA, 9 ORANG JUGA TERJARING

Sebelumnya, dalam pengawasan pada Minggu dinihari (18/11/2018), petugas Satpol PP juga mengamankan 9 orang yang terdiri dari tujuh perempuan dua laki laki. Satu perempuan yang diduga sebagai PSK diamankan petugas di salah satu kamar Hotel Grand Sari, Jalan Thamrin, Kecamatan Padang Selatan berinisial WF (17 tahun).

Berlanjut ke kawasan Gor H. Agus Salim Padang, petugas melihat pasangan laki-laki berinisial JP (34) bersama seorang perempuan YZ (17 tahun) yang duduk berduan di tempat gelap padahal telah larut malam. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, petugas mengamankan keduanya ke Mako Satpol PP.

Masih di lokasi yang sama, petugas mempergoki seorang waria berinisial DE (26 tahun) yang berusaha kabur saat melihat mobil petugas yang melewati kawasan tersebut. Sedangkan dua orang perempuan lagi berinisial FB (18 tahun) dan SY (18 tahun) ditertibkan petugas di kawasan Simpang Pujasera, Jalan Samudra sekira pukul 01.00 WIB serta satu orang laki-laki KM (32 tahun) yang juga bersamaan dengan mereka.

Selain itu, dua orang wanita yang diduga lesbian juga diciduk petugas di Kafe Pelangi, di kawasan Pondok, Kecamatan Padang Selatan, berinisial DF (27 tahun) dan NS (23 tahun). Mereka bekerja sebagai pemandu lagu dan waiters di lokasi tempat hiburan malam.

Semua yang terjaring petugas dalam rangka pengawasan terhadap pekat itu dibawa ke Mako Satpol PP di Jalan Tan Malaka Padang untuk diproses sesuai ketentuan dan akan diberi pembinaan.

Kasat Pol PP Padang, Yadrison, mengatakan pihaknya terus berkomitmen memberantas maksiat. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dideklarasikan Pemko Padang bersama semua elemen pemerintahan dan organisasi lainya, pada Minggu pagi lalu (18/11/2018), di pelataran parkir bagian barat Gor H. Agus Salim Padang.

“Kita dari awal sudah komit untuk memberantas maksiat dan penyakit masyarakat lainnya di Kota Padang, sesuai degan visi-misi walikota bahwa Padang harus terhindar dari perbuatan maksiat sehingga menjadi kota yang aman, nyaman, dan tenang bagi masyarakat," kata Yadrison.

TRAUMA DENGAN LAKI-LAKI, PILIH JADI LESBIAN

Berdasarkan pengakuan pengidap lesbian yang terjaring razia Satpol PP Padang, NS, trauma dengan laki-laki menjadi alasannya menjadi penyuka sesama perempuan. Dia telah menikah tiga kali dan semua suaminya selalu melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Sudah tiga orang suami saya, semuanya main tangan. Anak saya dua kali meninggal dalam perut karena keguguran akibat suami saya sering memukuli saya. Makanya saya beralih ke dia (pasangan lesbiannya)," kata NS.

NS mengaku hubungannya DF telah berlangsung sekitar setahun. Bahkan kedua perempuan itu tinggal bersama dalam satu rumah kontrakan sejak dua bulan belakangan.

"Pacar saya sebelumnya laki-laki, tapi karena trauma makanya saya pacaran dengan perempuan. Sejak dua bulan ini mengontrak dengan dia (NS)," sambung DF yang merupakan pasangan NS.

DINAS SOSIAL PADANG REHABILITASI PELAKU LGBT

Hingga kini Dinas Sosial Kota Padang telah menerima sebanyak 18 terduga pelaku penyimpangan seks tersebut yang diserahkan Satpol PP untuk dilakukan tindak lanjut pembinaan. Total keseluruhan terduga LGBT itu terdiri dari 10 wanita lesbian dan delapan orang waria.

Kepala Dinas Sosial Kota Padang, Amasrul, menganggap LGBT termasuk penyakit jiwa. Maka itu, pendampingan bertahap harus terus dilakukan dalam merehabilitasi kelompok LGBT, mulai dari segi psikologi hingga keagamaan dengan mengandeng Kementerian Agama.

"Upaya dari Dinas Sosial itu (pendampingan) kami carikan psikolog, menggandeng Kementerian Agama, dan Dinas Kesehatan untuk cek darah,” terang Amasrul kepada KORAN PADANG, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, pendampingan untuk para LGBT juga diterapkan secara ‘door to door’ dengan mendatangi rumah pelaku penyimpangan seks tersebut. Upaya itu dilakukan dua kali sebulan.

"Kami lakukan pantauan ke rumah-rumah., sekali 15 hari dipantau ke rumah masing-masing terduga pelaku LGBT itu. Kami dampingi, beri assessment, kumpulkan data, periksa dari segi psikologi dan darah, sebagai bagian dari proses rehabilitasi," ujarnya.

Dinas Sosial mengklaim telah memiliki data terkait titik kumpul para kelompok LGBT di Kota Padang. Sedikitnya hingga kini terpantau sebanyak 12 titik yang menjadi tempat-tempat perkumpulan kelompok LGBT.

"Kalau data Dinas Sosial, ada 12 tempat yang menjadi lokasi pertemuan kelompok LGBT, mulai dari restoran cepat saji hingga salon," kata Amasrul. (rev)